A A A

Setelah Gemerlap Olimpiade: Industri Susu Cina Suram

Metode pencampurannya sebagai berikut: pertama mereka menambahkan 30 % air ke dalam susu untuk meningkatkan volume. Hal ini berakibat turunnya kandungan nutrisi, termasuk protein dalam susu. Semakin rendah kandungan protein ,maka harga susu semakin rendah. Hal ini disiasati dengan menambahkan melamin, yang secara palsu meningkatkan nilai hasil uji kandungan protein susu.

Sektor industri produk olahan susu di Cina berkembang secara fantastis, dari omset yang kecil sekarang telah mencapai $ 20 milyar dalam tempo kurang dari 5 tahun. Namun kurangnya modernisasi dan rendahnya tingkat ekonomi para perternak mengakibatkan masalah terutama dalam hal penyediaan pasokan susu yang rutin.

Sistem perpolitikan di Cina juga nampaknya hampir gagal dalam menghadapi masalah ini. "Sekarang kita semua mengerti bahwa Sanlu (perusahaan pengolah susu yang kasusnya diketahui pertama kali) telah tahu sejak Desember lalu bahwa produknya mengandung melamin, tetapi mereka diam saja", kata seorang sumber. Segera setelah mendengar berita kontaminasi tersebut, maka Fonterra (perusahaan pengolah susu dari Selandia Baru, juga pemilik 43% saham Sanlu) mengadakan rapat dengan Sanlu. Namun Fonterra diberi pernyataan bahwa sebagai pemilik saham minoritas (43%), tidak ada satupun perusahaan asing yang dapat menentukan kebijakan.

"Jika Anda adalah pemilik saham minoritas, dan terjadi sesuatu, maka Anda akan selalu terlambat diberitahu", kata seorang sumber. "Kemudian jika masalahnya menjadi serius, dan Anda perlu kerjasama dengan partner lokal, maka pemerintah kota akan mempersulit Anda", tambahnya lagi. Jelas terlihat bahwa Fonterra telah ditipu oleh partner lokalnya (Sanlu), dipersulit sekaligus ditekan oleh pemerintah kota setempat yang memberi pernyataan "kalau Anda meneruskan kasus ini, maka kami akan menutup perizinan Anda".

Namun Fonterra meneruskan kasus ini, dan memerlukan bantuan pemerintah Selandia Baru. Dalam hal ini Perdana Menteri Selandia Baru, Helen Clark, segera meghubungi Beijing. Beijing segera merespon dengan mendatangi Sanlu, menjerat staf Sanlu dengan pidana penjara, menjanjikan bantuan bagi para korban, serta memeriksa ketat 22 perusahaan pengolah susu lainnya.

"Sebagai kepala pemerintahan, saya merasa sangat bersedih. Tetapi yang terpenting adalah pelajaran yang dapat diambil dari kasus ini", kata Perdana Menteri Cina, Wen Jiabao, di New York pada 23 September lalu. "Hal ini merupakan aib bagi rezim pengontrol keselamatan pangan di sini, dan yang patut dipersalahkan adalah pemerintah kota karena mereka telah menghambat informasi, dan berusaha mencegah penarikan produk berbahaya tersebut", kata seseorang di jajaran internal industri pengolah susu. Salah seorang sumber lain malah mengatakan: "faktanya adalah di tingkat lokal, tempat dimana Anda melakukan bisnis di Cina, ini adalah suatu bisnis yang keras. Anda diatur oleh pemerintah setempat, dan partner lokal Anda, yang kalau tidak sebagian, adalah juga pemerintah setempat."

Rupanya perbaikan sistem di sektor pengawasan makanan di Cina, dan juga sistem birokrasinya, menjadi hal yang wajib dilakukan apabila Cina ingin kembali mendapat kepercayaan publik tentang produk-produknya.

Para analis berpendapat bahwa masalah tersebut sebenarnya bermula dari satu sumber, yaitu rendahnya tingkat pemeliharaan sapi. Kebanyakan peternak sapi di Cina hidup miskin, sehingga tidak mampu memberi makan sapinya secara memadai. Mereka juga dihadapkan pada rendahnya harga susu yang dijual ke agen. Dari sini masalahnya mulai timbul, mereka mencari solusi untuk menyiasati kondisi tersebut. Solusi yang dipilih adalah dengan mencampur susu dengan bahan lain untuk menaikkan pendapatan mereka.