A A A

Rokok "Light" Mungkin Mengandung Nikotin Sama Banyak

Light cigarette memiliki kandungan nikotin sebesar 0,6 - 1 mg sedangkan rokok biasa mengandung 1,2 -1,4 mg nikotin.

Para meneliti membandingkan dengan rokok terdenikotinasi (de-nicotinized cigarettes), yaitu rokok yang sudah dibuang kadar nikotinnya, sehingga hanya mengandung 0,05 mg nikotin, namun sudah cukup untuk menduduki sejumlah besar reseptor.

Nikotin berikatan dengan molekul tertentu pada sel-sel syaraf otak, yang dinamakan reseptor asetilkolin nikotinik. Ketika sel-sel syaraf saling berkomunikasi, impuls syaraf berpindah melalui celah diantara sel syaraf, dinamakan sinaps, dengan bantuan neurotransmitter. Neorotransmitter berikatan dengan sisi reseptor sel syaraf, yang akan menyebabkan dilepaskannya dopamin. Dopamin ini merupakan senyawa kimia yang menyebabkan efek gembira.

Nikotin menyerupai asetilkolin, namun berefek lebih lama, sehingga dapat melepaskan lebih banyak senyawa dopamin. "Nikotin dapat menyebabkan pelepasan dopamin dalam jangka waktu lama, inilah yang menyebabkan nikotin menyebabkan ketagihan", kata Dr. Arthur L. Brody.

Pada percobaan sebelumnya, para peneliti berhasil menemukan bahwa rokok biasa dapat menyebabkan terdudukinya 88% reseptor nikotin di otak. Namun penelitian tersebut belum dapat membuktikan apakah hanya nikotin saja yang bertanggungjawab terhadap terdudukinya reseptor tersebut, atau apakah ada pengaruh senyawa lain yang terdapat pada rokok.

Para peneliti kemudian berasumsi apabila hanya nikotin saja yang bertanggungjawab terhadap didudukinya reseptor tersebut, maka seharusnya rokok "light cigarette" akan menduduki sekitar 78% reseptor dan rokok terdenikotinasi mampu menduduki 23% reseptor.

Setelah dilakukan percobaan menggunakan pemindai PET (positron emission tomography) untuk membuktikan hal tersebut, ternyata terbukti bahwa rokok terdenikotinasi mampu menduduki 26% reseptor, dan rokok "light cigarette" menduduki 79% reseptor. Hasil ini identik dengan perkiraan para peneliti sebelumnya. "Dari hasil tersebut, kami menyimpulkan bahwa hanya nikotin yang bertanggungjawab terhadap didudukinya sejumlah reseptor tersebut", kata Dr. Brody.

 

Penelitian terbaru di UCLA membuktikan bahwa "light cigarette" tersebut ternyata dapat menghantarkan kadar nikotin yang sama banyaknya ke otak seperti yang terjadi pada rokok biasa. Hal ini dilaporkan oleh Dr. Arthur L. Brody dan koleganya pada International Journal of Neuropsycopharmacology, yang mengatakan bahwa rokok rendah nikotin tersebut berefek hampir sama dengan rokok biasa, yaitu menduduki persentase signifikan pada reseptor nikotin otak.