A A A

Obat Penghambat Beta dan Risiko Serangan Jantung

Pasien yang mengkonsumsi obat penurun tekanan darah selama atau sesudah menjalani operasi yang tidak berhubungan dengan jantung berisiko lebih tinggi untuk terkena serangan jantung dan kematian bila dibandingkan dengan pasien serupa yang tidak mengkonsumsi obat tersebut.

Kesimpulan tersebut diperoleh pada suatu penelitian yang dilakukan oleh Dr. Haytham M. S. Kaafarani dan Dr. Kamal M.F. Itani pada laporan Veterans Affairs Boston Health Care System di Archives of Surgery. Obyek penelitian ini adalah pasien yang mengkonsumsi obat-obatan jenis penghambat beta (beta blocker), seperti atenolol atau metoprolol selama masa mereka menjalani operasi di rumah sakit Houston VA tahun 2000.

Para peneliti tersebut mengevaluasi catatan medis dari 1.200 pasien yang mengalami operasi pembuluh darah, hernia, orthopedi, dan berbagai jenis operasi lainnya. Kemudian mereka menggolongkan para pasien tersebut menjadi 3 golongan berdasarkan risiko untuk terkena serangan jantung, yaitu golongan rendah, sedang, dan tinggi. Juga dilakukan pencatatan terhadap denyut jantung sebelum dan sesudah operasi.

Data yang diperoleh dari studi retrospektif menunjukkan bahwa diantara 238 pasien yang biasa mengkonsumsi obat penghambat beta atau yang mendapatkan obat tersebut menjelang operasi memiliki risiko lebih tinggi (2,94% dibanding 0,74%) untuk terkena serangan jantung dan kematian selama waktu 30 hari setelah operasi bila dibandingkan dengan 408 pasien lain pada kelompok kontrol. Fakta yang menarik adalah tidak ada satupun pasien yang meninggal yang berasal dari golongan pasien dengan risiko tinggi terkena serangan jantung.

Pasien yang mengkonsumsi obat penghambat beta dan kemudian meninggal memiliki denyut jantung yang lebih tinggi sebelum operasi (86 denyut dibanding 70 denyut per menit) dibandingkan pasien yang mengkonsumsi obat penghambat beta yang kemudian tetap hidup.

Para peneliti kemudian mempertanyakan keamanan obat penghambat beta bagi golongan pasien yang berisiko terkena serangan jantung rendah dan sedang. Namun penelitian ini mendapatkan kritik, Dr. Todd E. Rasmussen dari Wilford Hall US Air Force Hospital di San Antonio, Texas yang mengatakan bahwa hasil penelitian tersebut kurang akurat. Dia juga menyarankan agar dilakukan penelitian serupa menggunakan metode yang lebih baik dan lebih lengkap.