A A A

Mengenal Pil KB Terpadu

Pil Keluarga Berencana (KB) Terpadu, atau disebut juga Combined Oral Contraceptive Pill (COCP), adalah kombinasi dari estrogen dan progestin (progestogen) yang digunakan secara oral untuk menghambat kesuburan wanita normal. Dengan kata lain, obat ini dapat digunakan untuk tujuan keluarga berencana.

Obat ini harus diminum pada waktu yang sama setiap harinya. Jika ada pil yang lupa diminum selama lebih dari 12 jam, maka khasiat kontrasepsinya akan berkurang. Pada umumnya obat ini dikemas dalam kemasan yang berisi 21 pil tanpa plasebo, atau 28 pil yang berisi 7 pil plasebo. Untuk kemasan yang berisi 21 pil, sebutir pil diminum setiap hari selama 3 minggu, kemudian diikuti dengan seminggu tanpa pil. Sedangkan untuk kemasan yang berisi 28 pil, sebutir pil diminum setiap hari selama 3 minggu, kemudian dilanjutkan dengan 7 pil plasebo yang diminum sebutir sehari.

Pil plasebo tidak berisi zat aktif estrogen atau progestin, namun biasanya hanya berisi suplemen zat besi, karena kebutuhan akan zat besi meningkat selama masa menstruasi. Bila pil plasebo tidak diminum maka tidak akan mempengaruhi efektivitas pengobatan.

Mekanisme kerja obat ini adalah dengan cara menghambat ovulasi melalui penurunan frekuensi sinyal hormon GnRH (gonadotropin-releasing hormone) oleh hipotalamus. Hal ini akan mengakibatkan menurunnya pelepasan hormon FSH (follicle-stimulating hormone) dan LH (luteinizing hormone). Efek ini terutama disebabkan oleh progestogen. Sedangkan estrogen berperan dalam menstabilkan endometrium dengan harapan mengurangi pendarahan, serta membantu menghambat ovulasi.

Mekanisme kerja sekunder dari semua golongan obat yang mengandung progestagen adalah penghambatan penetrasi sperma dari leher (serviks) rahim menuju ke saluran kelamin yang lebih atas (uterus dan tuba falopi) dengan cara meningkatkan viskositas (kekentalan) lendir di serviks.

Khasiat pil KB terpadu akan menurun bila obat ini diminum bersamaan dengan obat lain yang mengandung rifampisin, barbiturat, fenitoin, dan karbamazepin. Antibiotik berspektrum luas, seperti ampisilin dan doksisiklin, dapat mempengaruhi flora bakteri yang bermanfaat untuk mendaur ulang etinilestradiol di usus besar.

Efek samping yang ditimbulkan oleh pil KB ini meliputi pendarahan, meningkatnya sekresi vagina, berkurangnya jerawat, kekakuan pada payudara, membesarnya payudara, pusing, muntah, meningkatnya tekanan darah, dan melasma.

Selain untuk tujuan keluarga berencana, seringkali kontrasepsi oral ini digunakan untuk mengobati endometriosis, menstruasi yang terasa sakit, serta jerawat.