A A A

Melawan Flu Burung dengan Vaksin DNA

Flu burung berpotensi menjadi wabah di dunia, namun metode untuk melawan penyakit akibat virus ini masih jauh dari harapan. Sejauh ini, FDA telah menyetujui penggunaan beberapa vaksin yang dapat mencegah flu burung, akan tetapi masing-masing vaksin tersebut hanya efektif untuk satu jenis strain virus. Suatu vaksin baru, yaitu vaksin DNA, diharapkan dapat memberikan perlindungan yang lebih luas lagi.

Penyakit flu burung (avian influenza), yang disebabkan oleh suatu varian virus H5N1, telah menjangkiti jutaan unggas di seluruh dunia. Virus ini bermutasi dengan cepat, dan telah menyebabkan 250 orang meninggal.

"Semua orang takut bahwa virus ini akan bermutasi lagi sehingga dapat dengan mudah ditularkan dari satu orang ke orang yang lain, ini mungkin adalah ancaman wabah terbesar yang akan kita hadapi saat ini", kata David Ho, seorang guru besar pada Universitas Rockefeller.

Kemampuan virus untuk cepat bermutasi ini merupakan faktor terpenting sulitnya melawan flu burung. Untuk mengatasi hal ini, Ho bersama koleganya melakukan penelitian terhadap vaksin baru yang diharapkan dapat melawan virus flu burung secara broad-acting. Vaksin ini dibuat dari DNA yang telah dimodifikasi secara genetis.

Ho dan koleganya memfokuskan penelitiannya pada gen untuk hemagglutinin, yang memproduksi protein terluar virus. Mereka membuat untaian DNA untuk gen yang menghasilkan hemagglutinin dari potongan gen gabungan dari berbagai strain virus H5N1, bukan dari strain virus tunggal.

Vaksin DNA memiliki berbagai keunggulan, yaitu lebih stabil, tahan lama, tidak perlu dibekukan, cepat dimodifikasikan, serta murah apabila ingin diproduksi massal. Akan tetapi vaksin DNA juga memiliki kekurangan, yaitu tidak efektif apabila disuntikkan secara biasa. Untuk mengatasi hal ini, Ho mengembangkan suatu metode elektroporasi, yaitu dengan cara mengkombinasikan vaksin dengan suatu rangsangan listrik kecil di lokasi suntikan. Pada uji tahap awal, metode ini berhasil meningkatkan asupan DNA oleh sel otot.

Hasil percobaan vaksin DNA ini dilaporkan dalam edisi terbaru Proceedings of the National Academy of Sciences. "Tikus yang diberi injeksi vaksin DNA memiliki respon antibodi yang bagus terhadap berbagai jenis strain virus H5N1", kata Ho.

"Ini adalah temuan yang menarik", kata Peter Palese, ketua jurusan mirobiologi pada Mount Sinai School of Medicine di New York. "Vaksin ini perlu dicobakan ke manusia".

"Hal yang membuat vaksin ini sangat menarik adalah kemampuannya untuk merangsang kekebalan terhadap beragam strain virus. Vaksin yang tersedia sekarang hanya terbatas untuk strain virus tertentu, masalahnya adalah bila virus bermutasi cepat, maka vaksin tersebut menjadi tidak efektif lagi. Vaksin yang baru ini diharapkan dapat mengatasi hal tersebut", kata Peter Palese menambahkan